SOP Layanan Jamparingrasa

 


I. TUJUAN OPERASIONAL

Memberikan panduan teknis harian bagi petugas agar layanan pengangkutan sampah berjalan aman, tertib, konsisten, dan berkualitas.


II. STRUKTUR PETUGAS LAPANGAN

1.    Koordinator Lapangan

·         Mengatur jadwal dan rute

·         Menangani kendala lapangan

·         Menjadi penghubung dengan pengurus

·         Menyiapkan biaya operasional pengangkutan

2.    Petugas Angkut

·         Mengambil dan memindahkan sampah

·         Menjaga kebersihan area layanan

3.    Sopir (jika menggunakan kendaraan)

·         Mengemudikan kendaraan

·         Memastikan kendaraan layak jalan

·         Membantu juru angkut dalam kondisi tertentu


III. PERALATAN WAJIB

Setiap petugas wajib menggunakan:

·         Sarung tangan

·         Masker

·         Sepatu boots

·         Seragam/rompi kerja

Peralatan kerja:

·         Gerobak / sorong / kendaraan angkut

·         Sekop / alat bantu angkut


IV. ALUR KERJA HARIAN

1. Persiapan (Sebelum Berangkat)

·         Absensi petugas

·         Pemeriksaan APD

·         Pengecekan kendaraan (ban, rem, bahan bakar)

·         Briefing singkat oleh koordinator

2. Pelaksanaan di Lapangan

·         Mengikuti rute yang telah ditentukan

·         Mengangkut sampah dari titik pelanggan

·         Tidak membongkar sampah di lokasi pelanggan

·         Tidak meninggalkan sampah tersisa di pelanggan terkecuali sampah yang tidak sesuai ketentuan, yakni:

1)    Sampah yang tidak di masukan dalam kantong tertutup.

2)    Sampah berupa bekas mebeleir rumah tangga seperti kasur, lemari, kursi, dan mebeleir lainnya

3)    Sampah berupa rumput, ranting, pohon, dan sejenis nya bekas penyiangan halaman, taman, kebun dan sejenisnya.

3. Setelah Pengangkutan

·         Membersihkan alat dan kendaraan

·         Membuang sampah ke TPS/TPA

·         Melaporkan kendala


V. STANDAR PELAYANAN KE PELANGGAN

Petugas WAJIB:

·         Menyapa dengan sopan

·         Tidak bersikap kasar

·         Tidak berdebat dengan pelanggan

Petugas DILARANG:

·         Meminta pungutan liar

·         Membalas provokasi

·         Meninggalkan pekerjaan tanpa alasan


VI. PENANGANAN SITUASI LAPANGAN

1. Jika Sampah Tidak Sesuai

·         Beri penjelasan dengan sopan

·         Tinggalkan jika termasuk kategori tidak diangkut

·         Laporkan ke koordinator

2. Jika Terjadi Konflik dengan Pelanggan

·         Tidak membalas secara fisik/verbal

·         Menjauh dari lokasi jika situasi memanas

·         Laporkan ke koordinator

3. Jika Terjadi Kekerasan

·         Utamakan keselamatan diri

·         Segera tinggalkan lokasi

·         Laporkan ke pengurus dan aparat desa


VII. SISTEM PEMBAYARAN LAPANGAN

·         Petugas penerima pembayaran diberikan surat tugas

·         Petugas hanya menagih sesuai daftar resmi

·         Wajib memberikan bukti pembayaran

·         Setoran diserahkan ke bendahara berikut catatan


VIII. PENCATATAN DAN PELAPORAN

Petugas wajib mencatat:

·         Jumlah pelanggan terlayani

·         Pelanggan menunggak

·         Keluhan pelanggan

·         Kejadian khusus (konflik/kecelakaan)

Dilaporkan setiap hari kepada koordinator.


IX. STANDAR DISIPLIN PETUGAS

Pelanggaran ringan:

·         Tidak menggunakan APD

·         Terlambat

Pelanggaran berat:

·         Bersikap kasar

·         Melakukan pungli

·         Terlibat konflik fisik

Sanksi bertahap:

·         Teguran

·         Peringatan tertulis

·         Pemberhentian


X. KESELAMATAN KERJA

·         Hindari benda tajam

·         Jangan mengangkat beban berlebihan

·         Istirahat cukup

·         Segera lapor jika sakit/cedera


XI. PENUTUP

SOP ini wajib dipahami dan dilaksanakan oleh seluruh petugas sebagai pedoman kerja harian di lapangan.


Ditetapkan di: Nagrak Selatan
Tanggal: 16 Juni 2025

BUMDes Mandiri Nagrak Selatan

 

 

 

 


Andri Gunawan

(Direktur)


LAPORAN HASIL EVALUASI UNIT PETERNAKAN DALAM PRODUKSI AYAM BROILER PERIODE KE-3 (NOVEMBER 2025)

 

LAPORAN HASIL EVALUASI UNIT PETERNAKAN

DALAM PRODUKSI AYAM BROILER PERIODE KE-3

(NOVEMBER 2025)

  

A.   Data ringkasan

ü  Populasi DOC                               : 2.500 ekor

ü  Ayam terpanen                                       : 2.296 ekor

ü  Mortalitas                                      : 204 ekor

ü  Deplesi                                          : 8,16%

ü  Umur rata-rata panen                   : 30,21 hari

ü  Konsumsi pakan total                   : 6.500 kg

ü  Berat rata-rata (BW)                      : 1,81 kg/ekor

ü  Feed intake per ekor                      : 2,83 kg/ekor (6.500÷2.296 =2,831 kg)

ü  FCR (Feed Conversion Ratio)        : 1,56

ü  IP (Index Performance)                  : 352

 

B.   Perhitungan penting

ü  Total bobot hidup terpanen  = 2.296 × 1,81 = 4.155,76 kg

ü  Mortalitas (%)  = 204 ÷ 2.500 × 100 = 8,16%

ü  Survival rate  = 2.296 ÷ 2.500 × 100 = 91,84%

ü  ADG (Average Daily Gain)  ≈ 1,81 ÷ 30,21 = ≈ 59,9 g/hari.

 

C.   Interpretasi performa

1. Produktivitas & pertumbuhan

BW rata-rata 1,81 kg pada umur ~30 hari dan ADG ≈ 59,9 g/hari menunjukkan pertumbuhan “baik” untuk siklus pendek. Bobot ini kompetitif tergantung strain dan target pasar.

 

2. Efisiensi pakan

FCR 1,56 adalah angka sangat baik (efisien): diperlukan 1,56 kg pakan untuk menghasilkan 1 kg gain. Feed intake per ekor 2,83 kg konsisten dengan FCR dan BW yang dicapai.

 

3. Kinerja keseluruhan

IP=352 mengindikasikan performa keseluruhan yang “memuaskan/unggul” (umumnya IP > 300 dianggap baik).

 

4. Kesehatan / Mortalitas

Mortalitas 8,16% relatif  lebih tinggi  dari target ideal (seringkali target operasional <5–7% tergantung standar). Ini menurunkan jumlah terpanen dan menunjukkan ada masalah kesehatan/manajemen yang perlu ditangani.

 

D.  Kekuatan (yang harus dipertahankan)

ü  Efisiensi pemanfaatan pakan sangat baik (FCR 1,56).

ü  Berat panen per ekor memuaskan di umur 30 hari → proses pemeliharaan, nutrisi, dan genetik bekerja dengan baik untuk pertumbuhan cepat.

ü  IP 352 menegaskan kinerja keseluruhan di level yang baik.

 

E.   Area perbaikan & rekomendasi cepat untuk produksi berikutnya

1.  Turunkan mortalitas (prioritas utama)

ü  Lakukan analisis penyebab kematian (catat mortalitas harian, gejala, waktu puncak).

ü  Perkuat program vaksinasi, sanitasi, dan biosekuriti.

ü  Periksa parameter lingkungan: ventilasi, suhu, kelembapan, kepadatan kandang, kualitas air.

 

2. Audit manajemen harian

Tingkatkan pencatatan harian: konsumsi pakan per kandang, mortalitas per hari, sampling berat mingguan. Ini memudahkan deteksi dini masalah.

 

3. Tinjau praktik pemotongan/deplesi

Pastikan deplesi 8,16% berasal semata-mata dari mortalitas; jika ada pemotongan dipasang/penjualan awal, pisahkan dalam laporan untuk transparansi.

 

4. Evaluasi nutrisi & feed program

Meskipun FCR sudah bagus, lakukan review formulasi (starter/grower) untuk memastikan biaya pakan tetap efisien tanpa mengorbankan performa.


F.   Kesimpulan singkat

Produksi menunjukkan “kinerja teknis yang kuat” (BW 1,81 kg; FCR 1,56; IP 352) — efisiensi pakan dan pertumbuhan sangat baik. Namun mortalitas 8,16% masih terlalu tinggi dan menjadi titik lemah utama yang mengurangi hasil akhir dan profitabilitas. Dengan intervensi pada manajemen kesehatan (vaksinasi, biosekuriti, lingkungan) dan perbaikan pencatatan harian, hasil panen dan efisiensi ekonomi dapat meningkat lebih lanjut.

LAPORAN EVALUASI KINERJA KEUANGAN BUMDES

LAPORAN EVALUASI KINERJA KEUANGAN BUMDES

 

BUMDes Mandiri Nagrak Selatan

Periode: Tahun 2025

 

A. RINGKASAN EKSEKUTIF

Pada tahun 2025, BUMDes Mandiri Nagrak Selatan:

1.    Menghasilkan pendapatan sebesar Rp 457.830.000

2.    Mengalami rugi bersih sebesar Rp (3.732.000)

3.    Memiliki total aset Rp 341.268.000

4.    Tidak memiliki kewajiban (utang)

5.    Arus kas operasional negatif Rp (126.075.000)

6.    Bertahan berkat penyertaan modal desa Rp 345.000.000

 

Kesimpulan utama:

BUMDes masih dalam fase “pengembangan usaha”, dengan struktur keuangan kuat (tanpa utang), namun kinerja operasional belum efisien dan belum menghasilkan laba.

 

B. ANALISIS LABA RUGI (KINERJA OPERASIONAL)

Pendapatan

Sumber utama berasal dari:

1.    Penjualan barang dagangan: Rp 459.064.000

2.    Pendapatan jasa justru negatif (indikasi kerugian unit tertentu)

 

Artinya:

BUMDes sangat bergantung pada satu sumber usaha (perdagangan).

 

Profitabilitas

1.    Laba kotor: Rp (1.866.000) sudah rugi di level dasar

2.    Laba operasional:Rp (3.576.000)

3.    Laba bersih: Rp (3.732.000)

 

Masalah utama:

1.    Harga pokok penjualan (HPP) lebih tinggi dari pendapatan

2.    Beban operasional masih cukup besar dibanding margin

 

C. ANALISIS NERACA (KESEHATAN KEUANGAN)

Struktur Aset

Total aset: Rp 341.268.000

Komposisi:

1.    Aset lancar: Rp 182.516.000 (53%)

2.    Aset tetap: Rp 158.752.000 (47%)

 

️ Aset cukup seimbang antara likuid dan produktif.

 

Likuiditas

Kas: Rp 60.173.000

  ️ Likuiditas “cukup aman” untuk operasional jangka pendek.

 

Solvabilitas

Total kewajiban: Rp 0

 

️ “Sangat sehat”, karena:

·        Tidak memiliki utang

·        Risiko finansial rendah

 

Catatan Penting:

Aset biologis bernilai negatif: Rp (13.760.000)

️ Indikasi kerugian pada sektor peternakan (broiler)

 

D. ANALISIS PERUBAHAN EKUITAS

1.    Modal utama dari desa: Rp 345.000.000

2.    Rugi tahun berjalan: Rp (3.732.000)

 

️ Ekuitas akhir: Rp 341.268.000

 

Makna:

1.    Penurunan ekuitas disebabkan oleh kerugian usaha

2.    Tidak ada kontribusi dari masyarakat atau investor lain

3.    Tidak ada pembagian hasil (karena rugi)

 

E. ANALISIS ARUS KAS

Arus Kas Operasi

Rp (126.075.000) (negatif)

 

️ Penyebab:

1.    Biaya perawatan aset biologis sangat besar (Rp 518 juta)

2.    Biaya produksi tinggi

 

Arus Kas Investasi

Rp (158.752.000)

 

️ Digunakan untuk:

Pembelian aset tetap (kendaraan, mesin, bangunan)


Arus Kas Pembiayaan

Rp 345.000.000

️ Sumber utama:

Penyertaan modal desa

 

Posisi Kas

Saldo akhir kas:Rp 60.173.000

️ Tanpa modal desa, kas akan defisit.

 

F. ANALISIS TERPADU (INTISARI KINERJA)

 

Kekuatan

Tidak memiliki utang (risiko rendah)

Dukungan modal desa kuat

Memiliki aset tetap untuk pengembangan usaha

Kas masih positif

 

Kelemahan

❌ Usaha belum menghasilkan laba

❌ Arus kas operasional negatif

❌ Ketergantungan pada 1 sumber pendapatan

❌ Biaya produksi & biologis sangat tinggi

❌ Ada unit usaha yang merugi (indikasi: jasa & peternakan)

 

Peluang

📈 Optimalisasi unit usaha:

* Pengelolaan sampah (potensi pendapatan rutin)

* Wisata desa

* Pengolahan hasil ternak

 

📈 Diversifikasi usaha:

* Tidak hanya perdagangan

 

Ancaman

⚠ Kerugian berkelanjutan bisa menggerus modal

⚠ Ketergantungan pada dana desa

⚠ Risiko kegagalan usaha peternakan

 

G. REKOMENDASI STRATEGIS

Jangka Pendek (0–1 Tahun)

1.    Evaluasi unit usaha merugi (terutama peternakan & jasa)

2.    Tekan biaya produksi & operasional

3.    Perbaiki manajemen persediaan

4.    Fokus pada usaha yang menghasilkan cash flow cepat

 

Jangka Menengah (1–3 Tahun)

1.    Diversifikasi usaha (wisata, jasa lingkungan, UMKM desa)

2.    Tingkatkan efisiensi operasional (SOP ketat)

3.    Mulai melibatkan masyarakat dalam penyertaan modal

 

Jangka Panjang (3+ Tahun)

1.    Kurangi ketergantungan pada dana desa

2.    Bangun unit usaha unggulan yang stabil

3.    Targetkan BUMDes menjadi profit center desa

 

H. KESIMPULAN AKHIR

BUMDes Mandiri Nagrak Selatan berada pada fase:

“Tumbuh namun belum efisien”

1.    Secara struktur keuangan: **kuat (tanpa utang)

2.    Secara operasional: masih perlu perbaikan serius

 

👉 Fokus utama ke depan adalah:

meningkatkan efisiensi usaha dan menghasilkan arus kas positif dari operasional